Logo

Loading...

Haul 19 KH Amanullah Abdurrahim: Mengenang Pejuang Ilmu

18 Apr 2026
Santri An Najiyah
10 Dilihat
Biografi Masyayikh
  • KH. Amanullah Abdurrahim lahir di desa Tambakberas Kabupaten Jombang pada tanggal 08 Oktober 1942 M bertepatan dengan 1360 H.

Beliau adalah putra ke-4 dari lima bersaudara. Ayahnya KH. Abdurrahim Chasbullah adalah adik kandung dari KH. Abdul Wahab Hasbullah. Seorang Ulama pendiri, penggerak Nahdhotul Ulama. Ibunya, Ny. Hj. Mas Wardiah, yang berasal dari Kauman Yogyakarta merupakan kerabat dekat dari KH. Ahmad Dahlan, pendiri organisasi Muhammadiyah.

MASA KECIL

Amanullah--begitu kawan kawannya memanggil--yang lahir pada masa pendudukan Jepang, merupakan masa masa yang sulit. Kondisi sulit bangsa yang mengalami penjajahan dan usaha untuk merebut kemerdekaan, ditambah lagi dengan meninggalnya sang ayah pada saat usia Yai Amanullah kecil yakni usia 2 tahun merupakan kepahitan hidup yang membekas pada dirinya. Tetapi juga menjadi cambuk bagi dirinya untuk memberikan yang terbaik bagi putra putrinya kelak. Dalam bahasa beliau, beliau mengatakan kepada penulis

"Aku dendam karo zaman cilikku mbiyen. Mbiyen uripku prihatin, saiki aku gak pengen anak anakku susah."

PRIBADI YANG AHLI TIRAKAT

Beliau tidak pernah sarapan bila berangkat sekolah. Jika siang hari sekolah, seringkali beliau hanya makan ubi. Ketegaran dan kekuatan ibunya lah yang berhasil membesarkan lima orang anaknya sendirian, yang menjadi semacam cambuk penyemangan bagi Amanullah kecil untuk berjuang keras mencapai keberhasilan dalam hidupnya. Tak heran semboyan hidupnya adalah: "Ikhtiar, ikhtiar, ikhtiar."

RIHLAH THOLABUL ILMI

Kiai Aman merupakan orang pesantren, hidupnya ada di pesantren, lahir di pesantren, besar di pesantren, berkembang di pesantren hingga akhirnya membangun pesantren.

Proses pendidikan awal beliau dilakukan di kampunya sendiri di Madrasah Muallimin Muallimat Bahrul Ulum Tambakberas. Memang, Tambakberas pada waktu itu menjadi salah satu tujuan utama para pencari ilmu dari penjuru tanah air. Kiprah dan popularitas KH. Abdul Wahab Hasbullah di jagad tanah air barangkali punya peran besar dalam mempopulerkan nama Tambakberas dalam kancah pendid8ikan pesantren di tanah air. Guru beliau di Muallimin antara lain; Kiai Khudori Ngrawan, dan Kiai Abdul Djalil dari desa Bulak.

MENUJU TEGALREJO MAGELANG

Meskipun di Tambakberas beliau sudah cukup banyak mendapatkan ilmu dari para Masyayikh yang hidup pada masa itu, seperti Kyai Wahab dan Kyai Hamid, tapi beliau masih belum merasa cukup. Maka dengan tekad dan semangat yang kuat berangkatlah beliau menuju pesantren Tegalrejo Magelang.

Untuk melakukan rihlah tholabul ilmi ini bukanlah hal yang mudah bagi Kyai Aman. Mencari ilmu (mondok) di suatu tempat yang jauh dari sang ibu adalah suatu masalah tersendiri. Belum lagi masalah finansial atau sangu bekal yang harus dibawa saat mondok. Kyai Aman segan untuk mengutarakan maksudnya untuk mondok kepada ibunya. Belum lagi, menurut cerita beliau, ada semacam kekhawatiran dari beliau sendiri, jangan jangan kalau nanti matur malah sang ibu tidak mengizinkannya karena masalah biaya.

Tapi tekad sudah bulat, niat sudah memuncak, maka Amanullah muda berangkat menuju Pesantren Tegalrejo.

KEPANDAIAN KYAI AMANULLAH

Ketika di Tegalrejo, yaitu antara tahun 1957 hinggam 1959, beliau belajar satu angkatan dengan sahabatnya yakni KH. Abdurahman Wahid (Gus Dur). Ketika di Tegalrejo beliau termasuk santri yang pandai dan rajin. Ini dibuktikan bahwa pada saat Pesantren Tegalrejo mengadakan lomba baca kitab, beliau menjadi juara 1.

Kemenangan ini menjadi suatu yang membanggakannya, yang kemudian beliau ceritakan pada penulis agar menjadi pelajaran bagi anak cucunya. Kyai beliau pada saat di Tegalrejo adalah Kyai Chudlori bin Ihsan, menantu Mbah Dalhar Watucongol Muntilan Magelang

Satu hal yang perlu dicatat disini adalah bahwa sebelum beliau mondok di Tegalrejo, beliau menyempatkan diri untuk melengkapi keahliannya dengan mengikuti pendidikan mengetika di MPA Yogyakarta. Orang sempurna menurut Kyai Aman adalah orang yang mampu mengawinkan ilmu tradisional (kitab kuning) dengan kebutuhan modernitas (metodologi pemikiran dengan berbagai macam variasinya) juga skill yang memadai.

DI PESANTREN SARANG (1959-1963)

Kyai Aman memang sosok yang gigih dan pekerja keras. Beliau tidak akan berhenti belajar dan berusaha sebelum apa yanh dicita-citakannya tercapi. Ilmu adalah segalanya bagi beliau. Maka selepas mondok di Tegalrejo, dalam rangka Ta'ammuq dan Tafaquh fi Diin (memperdalam dalam pemahaman agama) beliau melanjutkan pendidikannya di Pondok Pesantren Sarang yang diasuh oleh KH. Imam

Kondisi ekonomi yang serba pas-pasan yang dialami Kyai Aman pada saat itu menuntu beliau untuk hidup prihati. Hidup pas-pasan bukanlah halangan bagi beliau untuk menggapai ilmu.

Terkadang, dalam suasana hening di ndalemnya, dengan memakai kaus singlet putih dan kuwelan sarung yang tidak rapih seperti biasanya, beliau menceritakan saat susah tapi juga indah saat mondok Sarang.

"Sanguku pas pasan, malah kurang. Nganggo manga aku kos ndok pak Jamilun, penduduka kampung tonggo pondok. Kadang aku namung mangan gedang godog rong biji.

Saat di Sarang, menurit salah seorang kawan mondok beliau yang sekarang tinggal di Diwek, Kyai Aman termasuk orang yang mempeng dan sering berpuasa. Kitab yang pernah beliau kaji antara lain adalah Tafsir Munir dan Shohih Muslim. Tapi, disamping melakukan kajian-kajian kitab kuning, beliau juga termasuj orang yang senang mengumpulkan ijazah wirid dan hizib dari para masyayikh.

Diolah dari tulisan KH. M. Salman Alfaries

Bagikan

Link disalin!